Setiap tahun selalu ada cerita. Khusus untuk super intensif, tahun ini saya difokuskan untuk mengajar di NF Brimob dan Cimanggis. Tapi setiap rabu siang walaupun sebentar, kadang ada juga beberapa anak ronin IPS di Depok 1 yang dulu pernah saya pegang sebelum super intensif, masih konsul sama saya.

Untuk tahun ini, jujur, saya merasa ini adalah tahun paling menguji kesabaran saya selama mengajar. Sebagai pengajar matematika, kali ini kelas yang saya pegang bisa dibilang didominasi oleh siswa-siswa yang masih sangat kurang pemahamannya di matematika. Hanya beberapa saja yang ‘koneksinya’ lancar dan nilainya sudah terlihat cukup bagus mulai dari awal TO. Entah apakah cara saya mengajar yang salah atau bagaimana, tapi yang pasti dari tahun ke tahun saya selalu konsisten dengan cara mengajar saya, hingga saat ini. Dan khusus tahun ini, saya malah lebih pelan penyampaiannya saat mengajar di kelas supaya mereka bisa mengikuti dengan baik. Tapi masih saja mereka sulit mencernanya. Dan ini terlihat sekali saat satu persatu dari beberapa anak di antara mereka konsul pelajaran ke saya. Ternyata setelah konsul, ya Allah… masih banyak sekali anak yang belum paham dasar perhitungan matematika yang seharusnya sudah mereka kuasai di tingkat SMP. Contohnya seperti ini :

  1. Hasil dari 2a+b mereka tulis 2ab
  2. Hasil dari 3y.(y) mereka tulis 4y
  3. Hasil dari x+x mereka tulis x2
  4. Hasil dari -3+2 mereka tulis -5
  5. Dapat persamaan 3b+5+2(b-4)=11, mereka gak kebayang harus ngapain

Ya Allah… saya cuma bisa istighfar dalam hati. Kalau yang dasarnya saja mereka masih sering salah, gimana mereka bisa ngitung dengan baik untuk materi SBMPTN lainnya? 😥

Mungkin karena mereka dari jurusan IPS dan ronin pula, bahkan ada juga yang dari lulusan pesantren dan SMK yang materi matematikanya sebenarnya gak begitu sulit, tapi mungkin karena sudah lama tidak review materi sekolah, apalagi soal hitung-hitungan, jadi perlu sering-sering banget diulang biar paham lagi. Tapi ternyata, beberapa kali saya jelaskan, bahkan dengan perumpamaan 2 ayam ditambah 1 bebek seperti anak SD saja, mereka masih sering mengulangi kesalahan yang sama. Ya Allah… cobaan apa ini? T__T

Jadi ingat, pernah ada satu guru yang curhat ke saya, waktu ngajar TPA di satu kelas, soalnya hitung-hitungan sederhana tentang mencari keliling bangun. Dia shock, ada satu anak yang gak ngerti sama sekali cara ngitung begituan. Dalam hati saya, itu baru satu anak sudah bikin shock. Bisa dibayangin kan shock level berapa saya waktu ngajar di ronin IPS??? Stress berat. Dan tingkat stress yang saya alami ini pun makin meningkat saat keadaan serupa tidak hanya terjadi di kelas IPS, tapi juga di kelas IPA!

Setahun kemarin saya full memegang kelas IPA dan IPS di NF Cimanggis dari awal semester sampai ahir. Jadi bisa melihat dari awal sampai akhir bagaimana perkembangan belajar mereka selama ini. Yang PPLS IPS, anak-anaknya lebih banyak yang pasif, jarang konsul dan jarang menjawab pertanyaan saya selama mengajar di kelas. Paling saya hanya bisa tahu perkembangan mereka dari nilai TO. Hanya ada satu anak yang terlihat rajin tanya-tanya. Awalnya kemampuan dia sama seperti anak-anak ronin yang saya ceritakan di atas, bikin geregetan. Tapi alhamdulillah… semakin lama kemampuannya sekarang sudah semakin baik karena dia memang tanpa segan selalu langsung bertanya jika ada hal-hal yang masih membuatnya bingung saat pelajaran di kelas maupun saat konsul. Selain itu, dia juga sering latihan dan sudah bisa memilah-milih materi yang jadi andalannya di kuadran 1 dan 2 yang memang sejak dari awal banget semester 1 kelas 12 sudah saya jelaskan agar bisa lebih siap ke depannya. Dan saat super intensif, walaupun dia tidak banyak mengerjakan soal-soal di problem set, hanya yang dia andalkan saja, tapi hasilnya benar-benar alhamdulillah menurut saya.

Sedangkan untuk PPLS IPA? Hm… saya sedikit kurang paham dengan sistem yang dipakai di sekolah saat ini dan juga guru-gurunya. Penjurusan IPA sudah mulai dipisah di semester pertama kelas 10. Gimana kita bisa tau anak-anak mampu atau enggak mengikuti semua pelajaran IPA di SMA yang pastinya beda dengan saat SMP. Hanya dengan melihat nilai UN atau rapor SMP? Waktu saya SMA, penjurusan baru dimulai kelas 11 dan pemilihan jurusan juga sudah melalui pertimbangan wali kelas setelah melihat perkembangan rapor di kelas 10, khususnya di pelajaran biomafia (biologi-matematika-fisika-kimia) kalau mau masuk IPA. Apakah mampu atau tidak. Kalau tidak, ya tidak bisa dipaksakan. Bahkan saya ingat sekali waktu itu ada teman yang nangis sampai mukul-mukul tembok di depan wali kelas saat pembagian rapor kenaikan kelas karena nilainya kurang untuk masuk jurusan IPA yang sangat dia idam-idamkan. Tapi ya itu, wali kelas tahu kalau dia pasti akan kesulitan kalau dipaksakan masuk jurusan IPA.

Dan untuk guru di sekolah mereka, apakah mereka tidak pernah memantau perkembangan kemampuan anak-anak mereka, khususnya untuk matematika? Untuk setingkat SMA, terlebih lagi jurusan IPA, saya benar-benar shock tingkat tinggi saat melihat ada anak yang harusnya menggambar titik dengan koordinat (3,6) malah jadi sebuah garis dengan koordinat (3,0) dan (0,6). Bahkan saat menghitung 2x=10 saja dipindah ruasnya malah jadi x=10-2. Allah… semoga ke depan guru-guru di sekolah lebih banyak dan lebih baik keadaannya, agar satu guru tidak harus memegang berpuluh-puluh anak sehingga bisa lebih mudah memantau perkembangannya.

Dan hasilnya, saya pun harus ekstra juga mengajarkan hal-hal receh tadi untuk kelas PPLS IPA yang saya pegang ini. Kebetulan banyak dari mereka memang bukan anak-anak dari sekolah unggulan macam smansa dkk yang sekali dijelasin bisa langsung ngerti. Perlu diulang dan diulang terus pelan-pelan. Nah… saat di kelas, ‘tik-tok’-nya dapet dan mereka juga jarang konsul. Jadi, saya pikir mereka sudah cukup paham. Tapi suatu ketika, saya langsung patah hati saat dua minggu menjelang UN, mereka tiba-tiba membludak minta diajarin dari awal. Semua materi yang saya ajarkan pada lupa. Berasa selama ini saya ngajar di kelas cuma numpang lewat aja kayaknya. Dirasa belum perlu-perlu banget kali ya karena UN-nya watu itu masih lama. Saat UN di depan mata, barulah mereka uring-uringan. Dan kembali, saya jadi pengen nangis saat melihat cara mereka ngerjain soal. Allahurabbiiiii….  ampuni hamba ya Allah… T_____T

Tapi yang namanya guru, bagaimana pun kondisi siswanya, sebisa mungkin memang harus sabar. Setiap konsul, saya memang tidak pernah mau menjelaskan di papan tulis. Saya lebih suka diskusi one by one ke masing-masing siswa dan menyuruh mereka langsung mengerjakannya sendiri dari hasil diskusi tadi, walaupun di saat yang sama ada beberapa siswa yang bertanya soal-soal yang berbeda dan kadang bikin fokus saya terpecah-pecah. Jadi, harus ekstra sabar. Apalagi mereka memang tipe-tipe anak yang tidak bisa menyerap banyak materi. Makanya di setiap pembahasan TO SBMPTN, saya tidak pernah membahas semua soal. Paling hanya 5 atau 6 nomor. Saya juga selalu menandai nomor-nomor soal dengan keterangan nomor kuadran agar mereka lebih fokus dan terbiasa dengan pembahasan kuadran yang sering muncul dan mereka andalkan sesuai kemampuan mereka. Begitu juga dengan problem set, saya selalu pesan ke mereka untuk minimal mengerjakan 10 nomor awal di tiap-tiap problem set yang merupakan soal-soal mudah yang sering keluar di SBMPTN.

Dan hari sabtu kemarin adalah hari terakhir pekan super intensif. Selama super intensif, alhamdulillah mereka gak SKS lagi karena setiap minggu juga saya selalu mengingatkan mereka di grup whatsapp untuk mengerjakan dulu problem set mereka sebelum nanti dibahas di kelas. Alhamdulillah mereka sudah lebih sering berdiskusi bareng teman-teman yang lain. Bahkan, ada beberapa anak laki-laki yang sampai nginep belajar bareng di NF cuma buat nyiapin pembahasan problem set. Walaupun tidak banyak soal yang dapat mereka kerjakan karena kemampuan mereka yang memang hanya sebatas itu, tapi saya bisa melihat bagaimana mereka sangat puas dengan hasil kerja mereka, terlebih lagi saat jawaban mereka benar. Dari situlah saya percaya kalau mereka sudah benar-benar berusaha semaksimal mungkin, dan itulah kemampuan terbaik mereka.

Alhamdulillah… TO terakhir kemarin rata-rata nilai mereka sudah banyak menunjukkan perkembangan jika dibanding sebelumnya. Dan semoga, saat SBMPTN nanti mereka bisa lebih baik lagi. InsyaaAllah, mereka bisa jauh lebih baik lagi. Aamiin ya Allah…

Hari ini SBMPTN. Untuk kalian, siswa-siswa NF yang selalu bersemangat, semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran, dan kepercayaan diri bagi kalian selama ujian. InsyaaAllah… Allah akan selalu memberikan yang terbaik. Dan perjalanan ikhtiar kita, insyaaAllah akan selalu berisi hikmah yang patut kita syukuri suatu hari nanti. Semoga Allah memberikan kesukseskan untuk semuanya. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.. 

 

————- update 19/5/2017 ————–

Kelakuan anak-anak kelas A2 NF Cimanggis. Saking semangatnya sama SBMPTN, sampe bikin beginian. Kreatippp! 😂😂😂😂😂😂😂😂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s