Sudah cukup lama saya berkecimpung di dunia perdiskusian rumah tangga via whatsapp, mulai dari grup pra nikah, grup finansial, grup ibu-ibu yang isinya melulu tentang susah senang saat membesarkan anak mulai dari bayi hingga besar, sampai akhirnya tiba-tiba saja tanpa saya duga, saya pun bisa bergabung dalam sebuah grup bernama “Ibu Profesional”. Wah, luar biasa sekali Allah memberikan saya kesempatan untuk membekali diri dengan ilmu persiapan menuju dunia rumah tangga yang sebenarnya nanti, insyaaAllah… semoga ilmunya bermanfaat ^^. Kemudian saya berpikir, sayang kalau hasil diskusi yang sudah saya dapat tenggelam begitu saja, terus saya juga malas kalau harus manjat-manjat conversation wa lagi :P. Jadi, lebih baik saya tulis lagi saja hasil diskusinya di blog saya ini, biar gampang kalau mau diingat-ingat lagi, tapi dengan gaya bahasa saya sendiri tentunya haha. Dan materi perdana tentang rumah tangga yang akan saya rangkum di blog saya kali ini adalah tentang perjalanan bagaimana caranya membangun home team dalam sebuah keluarga. FYI, diskusi ini adalah materi kulwap IIP Solo yang di-sharing ke grup IIP Depok, dengan narasumber Ibu Septi Peni, penulis resume Mbak Amalia, moderator Mbak Dian Gendhis, dan editor khusus untuk blog saya, Ratih Malini #tsah :D.

Oke, kita mulai. House dan Home. Kita tentu tahu apa bedanya dua kata tersebut. House adalah bangunan yang ditinggali/dihuni dan disebut rumah secara fisik, sedangkan Home adalah tempat dimana kita merasa nyaman jika berada di sana meskipun bentuknya bukan sebuah rumah. Nah, pertanyaannya apakah keluarga yang kita miliki saat ini hanya sekedar “House” atau sudah menjadi “Home”? — Bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri dan anggota keluarga kita ;). Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah keluarga kita sudah bisa disebut sebagai “team” atau hanya sekedar “kerumunan”?

Let’s see. Team adalah sekumpulan orang yang bersama-sama mencapai satu tujuan positif yang sama, sedangkan kerumunan adalah sekumpulan orang yang bersama-sama tapi tidak jelas arah dan tujuannya. Nah, dalam membangun keluarga yang solid tentunya akan lebih terasa jika kita berada dalam sebuah team. Yap, perlu sekali diciptakan nuansa team yang berkualitas dalam keluarga kita, dengan beberapa elemen yang harus ada di dalamnya tentunya. Apa saja? Elemen-elemen itu adalah semangat, saling percaya, kedekatan, komunikasi, dan yang paling penting adalah kemampuan untuk menghilangkan rasa egois yang kadang sering muncul dalam diri kita, karena kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam sebuah team adalah “Kita” bukan “Saya”.

Beberapa pertanyaan muncul dari materi ini :

1. Bagaimana cara menyingkapi keadaan “Ayah Ada, Ayah Tiada”? Karena saat ini ternyata masih banyak ayah yang kurang perduli dengan urusan IRT dan anak-anak.

Kondisi semacam itu sebenarnya karena kita masih terbelenggu dengan konsep lama, dimana ayah yang bekerja mencari nafkah dan ibu yang mendidik anak, sehingga yang terjadi urusan anak hanya urusan ibu. Karena itulah perlu dimunculkan seorang ibu yang profesional. Didik ibunya terlebih dahulu, ubah mindset ibu dalam pola pengasuhan karena ibulah yang dekat dengan anak-anak. Setelah itu baru kita ubah mindset suami hingga akhirnya bisa muncul kepedulian para ayah untuk mengimbangi pola pemikiran ibu yang sudah melesat.

2. Bagaimana cara menyingkapi dan mengompromikan karakter suami istri yang berbeda jauh latar belakang keluarga dan pengasuhannya? Bagaimana juga cara mengajak suami agar melek parenting?

Ada yang namanya moral character dan performance character. Untuk menjadi sebuah team, suami istri harus memiliki kesamaan moral character (value yang diyakini sama), tetapi performance character-nya harus berbeda dan saling melengkapi. Misal istri yang performace character-nya senang berbicara akan klop dengan seorang suami yang seorang konseptor. Tapi jika moral character-nya sudah berbeda, maka harus dibangun terlebih dahulu.

Untuk mengajak suami agar bisa melek parenting, bisa dengan cara kita ajak berdiskusi tentang materi-materi parenting yang pernah kita dapat dan ajak anak yang berbicara.

3. Bagaimana cara membangun home team di tengah berbagai permasalahan keluarga?

Paling awal, jadikan dahulu tantangan yang muncul sebagai “TANTANGAN KITA” bukan “TANTANGAN SAYA”. Sebuah team akan muncul dan terbentuk dengan cepat justru ketika kita punya tantangan bersama dan berusaha untuk menyelesaikannya bersama-sama. Bersama-sama rapatkan barisan, perbanyak komunikasi, dan susun strategi bersama-sama. Adrenalin pasti akan naik dan kita harus bisa melewatinya dengan high speed.

4. Apakah untuk menjadi sebuah team harus berada dalam satu rumah atau bisa juga jika dengan keadaan suami yang jauh dari rumah karena pekerjaan misalnya?

Jika kita sudah menganggap rumah kita sebagai home, jarak bukan lagi kendala. Banyak alat yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi bersama keluarga, seperti whatsapp misalnya. Di sana kita bisa membuat grup keluarga, membuat project bersama secara sederhana, seperti janjian puasa bareng sekeluarga, mengerjakan PR kampus bersama-sama keluarga, dan lainnya.

5. Bagaimana jika kesepakatan tidak berhasil dipertahankan oleh anak? Dan kata Bu Septi saat mendengarkan anak, yaitu dengan tidak men-judge dan tidak dari kita aturannya, jadi saya dan suami membuat kesepakatan yang dijalankan fastabiqul khoirot sesuai aturan anak.

Jika kesepakatan belum berhasil, berarti diskusikan lagi bersama keluarga, buat kesepakatan baru, dan keluarga berusaha untuk komitmen baik anak maupun orang tua. Contoh dari Bu Septi, keluarganya sepakat satu hari membuat satu tulisan, yang tidak menulis sehari harus keliling rumah 1x putaran tanpa kompromi. Karena terlalu sibuk dan lalai menulis, akhirnya anak terakhir Bu Septi, Elan, bertepuk tangan bahagia karena melihat yang tidak membuat tulisan harus lari keliling rumah sebanyak 5x.

Fastabiqul khoirot itu penting karena Umar bin Khattab pernah berkata, “apabila kamu menjumpai anakmu berbuat baik, catatlah. Tapi bila berbuat buruk, tegur, dan jangan pernah kau mencatatnya.”

6. Bagaimana contoh konkret cara membetuk home team?

Dengan mengerjakan project keluarga sederhana. Contohnya saat sedang berkumpul dengan keluarga, kita bisa bertanya pada anak kita, seperti yang dicontohkan Bu Septi pada anaknya Enes (8 tahun) berikut ini. “Apa yang mau kamu miliki di rumah ini?”. “Kamar mandi yang bersih.”, jawab Enes. Kemudian sepakatkan akan mempunyai kamar mandi yang bersih, jadikan ia (anak) sebagai pimpinan project. Beri ia gelar, Jendral Toilet misalnya. Dialah yang nantinya akan menentukan tugas masing-masing anggota keluarga termasuk orang tuanya untuk mewujudkan kamar mandi bersih.

———-

Nah, itulah sedikit materi yang insyaaAllah bermanfaat untuk kita yang ingin membangun home team yang solid. Buat yang sudah berkeluarga mungkin bisa mulai dicoba dan buat yang belum berkeluarga seperti saya… hm… kita banyak-banyak cari ilmu lagi yuk, siapa tahu praktiknya nanti bisa jadi jauh lebih profesional #haiyyyah! 😀

Nah, sudah siap membangun home team yang berkualitas? Kenapa enggak??? Haruss!! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s