Saya sangat suka dengan kata-kata Ibu Ainun di bawah ini…

“Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter?

Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya?

Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”

(Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)

  ainun_habibie2

Awalnya saya tidak begitu ‘ngeh’ dengan sosok istri dari salah satu Presiden RI ini, tapi perhatian saya langsung terusik saat mendengar berita kepergiannya. Seorang Habibie, saya melihat dia sangat terpukul dengan kepergian istrinya itu, dan ini… beda. Beda yang seperti apa, saya pun tidak bisa menjelaskan. Barulah setelah saya mengikuti berita-berita yang membahas langsung bagaimana kehidupan mereka berdua dan bagaimana cara Habibie mengekspresikan setiap jawaban-jawabannya, keyakinan itu muncul kalau Ibu Ainun Habibie adalah sosok yang memang pantas untuk diteladani bagi setiap ibu rumah tangga yang ingin dicintai keluarganya, terutama suaminya.

Dan kata-kata Ibu Ainun tadi, sungguh pemikiran yang sangat bijak di era emansipasi wanita saat ini. Almarhumah yang berpendidikan tinggi, seorang dokter, melihat keluarganya yang membutuhkan peran seorang ibu dalam suatu keluarga, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang menjadi cita-citanya. Dia tahu kodratnya, dia tahu apa peran sejatinya, dan dia tahu apa yang dibutuhkan keluarganya.

Saya sempat miris saat pergi di hari kerja dengan menggunakan kereta. Sekumpulan wanita berdesak-desakan untuk mencari nafkah di dalam kereta. It’s ok kalau mereka masih lajang dan belum berkeluarga atau belum memiliki anak karena saya pun sampai saat ini masih bekerja. Tapi yang sangat membuat saya sedih adalah tidak sedikit ibu-ibu hamil yang juga ikut berdesak-desakan di sana. Ya Allah… sebegitu pentingnyakah pekerjaan bagi mereka? Sebegitu berharganyakah uang bagi mereka, sampai-sampai mereka harus merelakan cabang bayinya terhimpit-himpit dengan sangat konyolnya di dalam kereta? Demi uang, mereka rela mengesampingkan kesehatan diri dan anak dalam kandungan mereka. Kalau saya tahu siapa suami mereka, saya pikir suami mereka adalah suami paling bodoh sedunia!

Saya menulis ini bukan karena saya ingin enaknya saja suami yang harus bekerja, bukan. Tapi, wanita dan pria memang diciptakan berbeda karena mereka memang mempunyai peran yang sangat berbeda. Bukan suatu kesalahan wanita berpendidikan tinggi, tapi bukan suatu keharusan juga kalau pendidikan tinggi harus menjadikan mereka sebagai seorang pekerja, karena wanita memang punya beberapa tahapan kehidupan baru dalam setiap perjalanannya, yang menjadi pembeda antara pria dan wanita. Saat masih lajang ia harus mengabdi pada orang tua, saat menjadi istri ia harus mengabdi pada suami, dan saat menjadi seorang ibu, tidak hanya suami yang harus ia bawa bersama-sama dalam membangun rumah tangga, tapi ia juga harus bisa membawa anak-anaknya agar bisa menjadi kebanggaan keluarga dan juga orang-orang di sekitarnya.

Kasih sayang seorang ibu sudah pasti sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan hanya seorang pengasuh karena ikatan batin yang terjalin sudah sedimikian kuatnya semenjak ia merasakan perkembangan anaknya saat masih dalam kandungan, saat ia melahirkan, dan saat ia memberikan ASI untuk anak kesayangannya. Dan saya yakin, seorang ibu yang bijak pasti akan lebih memilih untuk terus mendampingi suami dan memantau sendiri dengan sepenuh hati setiap tumbuh kembang anak-anaknya ketimbang harus bekerja untuk mencari nafkah dengan dalih untuk investasi keluarga di masa depan, khususnya anak-anak mereka. Inilah yang saya dapat dari sosok seorang Ibu Ainun…

Dari sinilah saya melihat bahwa kerja sama antara suami dan istri dalam membangun sebuah keluarga yang bahagia tidak melulu harus diukur dari segi finansial yang didapat, melainkan peran serta yang maksimal dari kodrat masing-masing penggerak keluarga. Suami dengan fisik yang kuat menopang keluarga dengan kerja kerasnya dalam mencari nafkah untuk masa depan keluarga dan istri dengan kasih sayangnya yang kuat menjadi penyokong di balik kekuatan seorang suami yang juga menjadi pendidik bagi anak-anaknya kelak. Anak-anak punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya karena itu jangan sia-siakan kebersamaan kita bersama mereka, saat mereka mulai membuka mata, menangis, berjalan, tertawa, dan memanggil nama kita. Jadikan kita, orang tua, adalah orang yang paling pertama menyaksikan setiap perkembangan menakjubkan yang terjadi pada anak-anak kita.

keluarga

Untuk semua ibu dan calon ibu rumah tangga, yakinlah pendidikan tinggi yang kita dapat bukanlah suatu hal yang sia-sia. Ilmu itu bisa kita terapkan untuk mendidik anak-anak kita kelak dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita, jika kita tahu hakekat ilmu yang sebenarnya dalam kehidupan sosial di sekitar kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s